Berita Terbaru

Pembangunan Gedung Asrama Baru sedang Berlangsung

Written By Admin on Jumat, 08 April 2016 | 13.00.00







Program Pembangunan Gedung Asrama Baru

Written By Admin on Jumat, 19 Februari 2016 | 12.49.00


Ingin Siswa-siswa Lebih Mengenal Dunia Teknologi, Ibu Shabana Mengirim 10 Unit PC Dekstop untuk SMP Al-Qalam


Siang menjelang sore, tepatnya pukul 14.30 WIB, sebuah taksi berhenti di depan gedung SMP Al-Qalam. Sesaat kemudian, seorang berkacamata membuka pintu taksi dengan penuh percaya diri. Adalah Pak Imam, sosok pengasuh sekaligus guru di sekolah islamic boarding school tersebut yang muncul dari taksi. Ia diberi amanah oleh salah seorang donatur untuk membeli 10 unit PC Dekstop di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Dengan penuh syukur, akhirnya ia berhasil menjalankan amanahnya, membelikan alat-alat Laboratorium Komputer yakni 10 unit PC Dekstop hingga sampai di SMP Al-Qalam.

Memang, Laboratorium Komputer di SMP Al-Qalam sempat ‘mati suri’. Namun dengan adanya bantuan dari Ibu Shabana telah memberikan angin segar tersendiri bagi siswa-siswa SMP Al-Qalam untuk lebih mengenal teknologi masa kini.


Selain PC Dekstop, Ibu Shabana juga memberikan seperangkat alat olahraga dan buku LKS (Lembar Kerja Siswa)

Alhamdulillah, Ibu Shabana juga memberikan seperangkat alat olahraga dan buku LKS. Semua bantuan tersebut sangat menunjang berlangsungnya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah kami. Untuk itu, kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Shabana, juga para donatur lain yang dengan segenap hati telah mengulurkan tangan untuk kami. Semoga segala kebaikan Anda diberikan keberkahan terhadap yang tersisa, dan dijadikan suci terhadap jiwa dan raga. Aamiin. [gfr]

MUKENA UNTUK IBU - Buku Karya Santri-Santri Yayasan Marhamah

Written By Admin on Jumat, 12 Februari 2016 | 11.06.00


Kata Mereka...

Subhanallah, cerita ini memberikan pelajaran yang sangat bagus. Dimana seorang anak yang belum bekerja bisa mewujudkan impian mulianya untuk ibunya tercinta. Dengan usaha yang sungguh-sungguh semua bisa diraih. Man jadda wajada.”
SR. Fidiyati, S.Kom. - Salah satu rekan donatur dari PT. Cipta Bayu Utama


“Cerita tentang anak soleh yang sangat menyayangi orangtuanya. Memberikan contoh bagi 
pembaca, khususnya anak-anak dan remaja tentang bagaimana kewajiban seorang anak 
terhadap dirinya dan kedua orangtua.”
Drs. Didin Supriatna, MM - Pengawas SMP Wilayah I Jakarta Timur 


“Membaca karya anak-anak ini menggambarkan potensinya dalam dunia tulis menulis. Bakat mereka di dunia kepenulisan memang ada, ditambah spirit untuk berbagi dengan memublikasikannya kepada khalayak. Terbukti mereka pandai merangkai kata dan dibumbui dengan kisah-kisah nyata, semakin membuat buku ini terasa berbeda. Semoga para pembaca terinspirasi!”
Imam Ma’arif, S.Pd.I. - Guru sekaligus Pengasuh di Yayasan Marhamah

“Apa boleh buat, lagi-lagi saya harus angkat topi. Setelah buku tentang ujian nasional dan dunia kepesantrenan. Kini, santri-santri ini kembali berkarya dengan tema keluarga. Ini buku ketiga karya mereka yang mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus geleng-geleng kepala. Cukup satu kata untuk mereka, salut!”
Ghofar El Ghifary - Penulis dan Owner di gachor.com

“Mukena Untuk Ibu. Pesan cerita yang disampaikan bagus sekali. Seorang anak soleh yang begitu sayang dengan orangtuanya, khususnya ibunya. Sehingga ia sangat berusaha untuk bisa membelikan mukena untuk ibunya. Memang benar, niat dan usaha yang mulia pasti Allah memberikan kemudahan untuk dapat mewujudkannya.”
Emiria Bakti - Salah satu donatur di Yayasan Marhamah





Mengenang Jasa Ibu Rawi

Written By Admin on Kamis, 11 Februari 2016 | 09.15.00

(Juru Masak di Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta)


Pernah suatu ketika, Bu Rawi marah-marah lantaran salah seorang santri telat makan siang. Aku yang ada di dapur pondok hanya menunduk terdiam, bukan terdiam karena tak perduli, namun karena aku sudah tahu tabiat ibu yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengabdi untuk pondok kami itu. Biasanya, bila ia sudah marah-marah, nanti ujung-ujungnya akan ada nasihat yang bisa kita petik dari akhir ucapannya.

Seperti kasus di atas, risiko bila telat makan siang, tidak akan kebagian jatah makan. Namun, setahuku Bu Rawi berjiwa besar, beliau tak akan sampai hati membiarkan santri yang tidak kebagian makan itu sampai kelaparan. Walau sambil marah-marah, beliau akan tetap saja memberi makan. Beliau sudah menganggap seluruh santri Pondok Pesantren Hidayatullah, Marhamah Jakarta dari berbagai angkatan sebagai anaknya. Dari angkatan Mahidin Syahidu yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Al-Qalam. Angkatan Wahyudi yang saat ini sedang mengabdi di asrama yang pernah disinggahinya untuk menuntut ilmu itu. Lalu angkatan Dika Firmansyah, yang kini sedang tugas di Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu. Dan masih banyak angkatan-angkatan lainnya.

Pernah suatu ketika aku bersilaturrahim di kediamannya yang ada di lokasi rawan banjir, di Tanjung Lengkong, Bidaracina, Jakarta Timur. Beliau bercerita kepadaku bahwa beliau sering sedih dan gusar bila jatuh sakit. Sedih bukan karena sakitnya. Namun, beliau sedih karena memikirkan siapa yang akan memasakkan makanan untuk para santri. Aku yang mendengar keluhannya itu hanya bisa menyemangati dengan tetap menghiburnya agar beliau kembali sehat seperti sediakala. Dan kukatakan kepada beliau bahwa untuk sementara waktu, makan para santri dimasakkan oleh istri-istri para ustadz yang ada di pondok. Sejurus dengan itu, beliau pun terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

Awal penyakit kronis yang dialami Bu Rawi
Akhir-akhir ini Bu Rawi sering jatuh sakit. Beberapa ustadz pondok pun sering menyarankannya untuk istirahat di rumah saja. Akan tetapi, beliau seringkali mengelak dari rasa sakit yang dideritanya. “Saya masih kuat masak. Saya tidak mau berhenti masak untuk anak-anak. Diam di rumah malah membuat badan saya lemas,” ujar wanita yang menginjak usia 59 tahun itu.

Dan ternyata, sakit yang dialami Bu Rawi semakin parah. Ada penyakit kronis, yakni penyakit tumor yang bersemayam di tenggorokan kirinya. Beliau pun semakin sulit untuk berbicara. Dan akhirnya pihak pondok memutuskan untuk membawa beliau ke RS Persahabatan. Sesampai di rumah sakit, beliau dioperasi bagian perutnya untuk menyambungkan selang ke lambung karena tidak bisa makan dan minum melalui tenggorokan. Sebelumnya beliau pernah mempunyai penyakit tumor di perut, namun penyakit itu sudah dioperasi dan diangkat ketika dirawat di RS Budhi Asih. Dan saat itu dokter di sana menganjurkan beliau untuk cemotherapy, namun ia juga tak kunjung cemotherapy. Sehingga sisa-sisa tumor di perut yang sempat diangkat tadi menjalar ke tenggorokan.

Selama tiga minggu Bu Rawi dirawat di RS Persahabatan. Kata dokter, penyakit yang diderita Bu Rawi sangat parah dan sudah tidak ada harapan lagi. Kemudian Bu Rawi pun dianjurkan untuk dibawa pulang. Mengingat status Bu Rawi hanyalah seorang janda dan hidup sebatangkara walaupun sebenarnya mempunyai anak laki-laki yang sudah tak perduli lagi dengannya, salah seorang ustadz pondok menyarankan beliau untuk diinapkan di pondok saja. Tujuannya agar ada yang merawat dan memperhatikan beliau.

Sosok wanita yang sangat berjasa itu telah tiada
Bu Rawi pulang dari rumah sakit dan dirawat di pondok. Dua pekan lamanya beliau dirawat di pondok. Semakin lama kondisi Bu Rawi semakin memburuk. Tubuhnya nampak kurus lantaran tak ada asupan makanan bergizi yang cukup mengisi lambungnya. Hanya air susu dan obat-obatan cair. Beliau pun sering mengeluh sakit kepala dan susah bernapas. Bila berbicara, suaranya serak parau dan susah dimengerti. Pagi itu beberapa santri segera melaporkan kondisi Bu Rawi kepada ustadz-ustadz di pondok. Kemudian beberapa pengasuh pun kembali membawa beliau ke RS Persahabatan atas perintah beberapa ustadz tadi.

Sesampai di rumah sakit, beberapa pengasuh pondok menunggu kepastian dari dokter. Cukup lama Bu Rawi menunggu penanganan dari dokter. Hingga waktu sore menjelang salat ashar, dokter dan beberapa suster membawa Bu Rawi ke ruang UGD. Kata dokter, tumor yang tumbuh di tenggorokan merambat ke saluran pernapasan, sehingga diharuskan untuk operasi. Operasinya pun akan dilakukan tanpa adanya tahap pembiusan terlebih dahulu. Sesuai diagnosa dokter, bila dilakukan pembiusan, dikhawatirkan berhasil tidaknya proses operasi tidak bisa diketahui karena kondisi pasien yang sangat lemah. Akhirnya beberapa pengasuh pondok pun setuju dilakukannya operasi. Kemudian saat operasi akan dilakukan, Bu Rawi menghembuskan napas terakhir. Beliau sudah dipanggil lebih dulu oleh Allah Swt. Innalillahi wa’inna ‘ilaihi rooji’uun.

Menuju peristirahatan terakhir
Sesampai di rumah, lebih tepatnya pukul empat sore, beberapa tetangga Bu Rawi, para ustadz dan pengasuh pondok terlibat adu argumen tentang waktu pemakaman beliau. Ada yang mengusulkan untuk langsung dimakamkan sore itu juga. Namun ada juga yang mengusulkan untuk dimakamkan besok pagi saja dengan alasan menunggu kedatangan anak laki-laki satu-satunya. Beberapa orang yang mengusulkan untuk dimakamkan sore itu jelas marah dan kecewa lantaran tingkah anak Bu Rawi yang hanya dua kali menjenguk beliau selama sakit. Itu pun anaknya langsung pergi entah kemana tanpa ada pamit terlebih dahulu hingga beliau wafat.

Dalam perang argumen itu, akhirnya ada ketua RT setempat yang menjadi penengah. Dan menganjurkan kepada salah seorang warga untuk menelpon anak Bu Rawi.  Setelah anak Bu Rawi ditelpon, ia berkata bahwa akan datang pukul tujuh malam. Akhirnya, pemakaman pun diputuskan malam ini juga, usai shalat isya’, sambil menunggu kedatangan anak Bu Rawi, dan tak sampai menunggu hingga besok pagi.

Jenazah Bu Rawi sudah siap untuk dimakamkan. Aku merasa sangat kehilangan dan berhutang budi kepada beliau. Apalagi niatku untuk memberinya uang tunai belum juga tertunaikan. Tanpa pikir panjang aku megambil alih untuk mengangkat keranda bersama-sama dengan para pengasuh dan warga. Hingga sampai proses pemakaman Bu Rawi selesai. Dan doa usai pemakaman pun dipimpin oleh salah seorang ustadz pondok.

Sungguh! Aku, para santri, pengasuh dan ustadz pondok merasa kehilangan atas wafatnya Bu Rawi yang sangat berjasa bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta tempat kami bernaung. Dan kami sangat menyadari, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah atas dasar kehendak Allah. Suatu saat, entah kapan, kita semua pasti akan menyusul beliau. Selamat jalan ibu kami tercinta! [gfr]

       Ditulis pada 5 Januari 2011 di www.elnisa.com

Membekali Anak dengan Beladiri Harus ‘Extra’ Hati-hati

Written By Admin on Kamis, 04 Februari 2016 | 08.07.00

Dengan berjalannya waktu, seiring dengan perkembangan umat Islam di seluruh dunia, maka pembinaan diri dalam hal kesehatan, spiritual, dan keterampilan diri sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, setiap muslim sudah sepatutnya untuk melakukan pembelajaran beladiri. Semua itu dapat dimulai sejak dini. Rasulullah Saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT dari pada mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan.”(HR Muslim). Dari hadits tersebut kita dapat mencermati bahwa Allah mencintai seorang mukmin yang kuat. Oleh karena itu, step by step untuk menjadi mukmin yang kuat salah satunya dengan membekali diri dengan beladiri.
Seiring dengan perkembangan beladiri itu pula, setiap muslim dituntut untuk berkompetisi. Beladiri semacam karate do, tae kwon do, thifan pokhan dan lain sebagainya sangat diminati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Dari masyarakat yang sangat antusias ini kemudian beladiri dijadikan sebagai cabang olah raga melalui berbagai ajang kompetisi.
Dilihat dari unsurnya, beladiri sangatlah beragam. Menurut sebuah artikel yang ditulis melalui situs Warrohmah, bahwa beladiri di Indonesia banyak macamnya. Di antaranya beladiri jahili dan islami. Beladiri jahili jelas tidak layak dikonsumsi oleh umat islam. Sementara beladiri yang mengaku islami harus benar-benar dicermati dan dikaji karena banyak beladiri yang menganggap dirinya islami, tetapi isi dan prakteknya sejatinya adalah jahili. Seperti beladiri yang mensyaratkan sesajen, puasa mutih, mengajarkan mantra-mantra untuk mengundang jin, mengajarkan jampi-jampi yang dicampur dengan ayat al-Qur’an atau murni dari ayat-ayat al-Qur’an dan Asma’ul-Husna. Memang benar tujuannya mengamalkan al-Qur’an dan Asmaul Husna, akan tetapi cara mengamalkan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Sejurus dengan fenomena semacam ini, kita sebagai muslim yang akan mengamalkan ilmu beladiri atau menginginkan anaknya untuk bisa keterampilan beladiri sangat dituntut untuk pandai memilih dan memilah ilmu beladiri yang akan ditanamkan pada diri anak kelak. Untuk itu kita harus memahami syarat-syarat ilmu beladiri. Di antaranya: sehat lahir bathin, tidak ada syirik, menjaga fitrah kita sebagai manusia, tidak berbau maksiat, tidak menyerupai orang kafir, dan tidak berperilaku sombong. [gfr]


Kunjungan Semarak Ulang Tahun Ke-54 PT.Hutama Karyan(Persero)

Written By Saiful Bahri on Rabu, 25 Maret 2015 | 14.44.00



Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang selalu memberikan yang terbaik bagi masa depan umat-Nya.Begitu banyak limpahan rizki dan nikmat yang Allah anugrahkan kepada setiap makhluk-Nya, kecuali orang yang tidak beriman,yang melalaikan nikmat yang diberikan Allah.Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada orang nomor satu di dunia dan lebih khusus umat islam.Perjuangannya yang tidak bisa kita lupakan. Hadirnya sebagai sosok yang berpengaruh bagi peradaban umat manusia.Darah dan kesedihan, dia korbankan demi mewujudkan kalimat tauhid.Upaya dan pengorbanan itu, kita nikmati sampai saat ini.Dialah Nabi Muhammad Saw.

Di siang hari menjelang asar, segerombolan mobil mewah memasuki kawasan yayasan marhamah.Sekitar 10-an mobil pribadi berpakir dihalaman,rata-rata berisikan para ibu-ibu dari PT.Hutama Karya yang mengadakan kegiatan Semarak Ulang Tahun ke-54 di panti yayasan marhamah.Dengan harapan semoga PT.Hutama Karya tetap eksis dan mampu bersaing dengan perusahaan lain dan tentu tidak melupakan kepentingan sosial yang dihadapi orang-orang miskin dan maupun lembaga yayasan yang menampun anak-anak yatim, dhuafa maupun terlantar.Semoga kedepan banyak berpartisipasi dan menentaskan kemiskinan yang dihadapi bangsa indonesia ini.Serentak anak-anak yayasan marhamah mengamininya. Amiin...

Dalam kegiatan Semarak Ulang Tahun Ke-54,PT.Hutama Karya, di yayasan marhamah di ikuti sekitar 100 anak-anak yayasan marhamah dan berserta para ustadznya.Penyambutan hangat dari anak-anak yayasan marhamah membuat gemuruh ruangan aula dengan lantunan takbir dan raut muka terlihat cerah.Karena ustadz Mahmud Efendi memberikan sambutan dan mengucapkan terima kasih semua jajaran PT.Hutama karya yang meluangkan waktu dan tenaganya demi mengunjungi yayasan marhamah.Semoga Allah melimpahkan keberkahan dan kemudahan dalam menjalankan usaha.Sebelum di akhiri acara ustadz Mahmud mendoakan dan diakhiri foto-foto bersama-sama.Ada beberapa foto di bawah ini sebagai berikut:




















Terimakasih telah turut mendukung program pembinaan, pendidikan, dan pengasuhan Yayasan Panti Asuhan Marhamah Jakarta. Donasi Anda dapat disalurkan melalui akun rekenuing berikut:

BRI Cab. Otista Jakarta No. 0340.01.00025730.8
Bank Mandriri Cab. DI Panjaitan No. 006.0097045920
Bank BCA KCP Otista No. 5530289950

Rekening atas nama: Yayasan Marhamah Jakarta

Workshop Blogger Di Institu Bisnis Nusantara (IBN)

Written By Saiful Bahri on Selasa, 24 Maret 2015 | 13.04.00




Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah semata, tidak ada yang bisa menandanginya.Hanya orang sabar dan bertakwa yang bisa menikmati pemberian Allah dengan mensyukurinya. Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw yang telah membawa risalah untuk umatnya dengan segala konsikuensi yang ia dapatkan dari umat manusia yang tidak menginginkan kebenaran islam.

Alhamdulillah di sore hari menjelang ashar, ketika mulai terdengar suara adzan ashar dilantunkan setiap masjid, datanglah jemputan.Pada jum'at sore tepatnya.Anak-anak yayasan marhamah mendapat undangan di salah satu universitas Institu Bisnis Nusantara yang tidak jauh dari yayasan.Dengan hati gembira dan rasa senang yang terpancar diraut muka anak-anak yayasan marhamah. Karena pada kesempatan ini, mereka diajarkan cara membuat blogger. Rata-rata anak zaman sekarang sudah banyak mengenalnya dan menggunakan untuk berdagang, menyimpan tulisannya dan dll. Tapi beda dengan anak-anak yayasan marhamah yang tidak memiliki fasilitas yang cukup baik dari keberadaan alat elektronik dan maupun fasilitas pendukungnya.

Namun semua itu tidak memudarkan cita-cita dan semangat mereka untuk tetap belajar dan mempelajari ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Itu semua berkat bantuan dan simpatisan para donatur. Semoga apa yang telah telah diberikan membawa manfaat anak-anak yayasan marhamah dan sebagai modal kehidupan selanjutya. Di bawah ini ada beberapa foto kegiatan anak-anak yayasan marhamah;

Terimakasih telah turut mendukung program pembinaan, pendidikan, dan pengasuhan Yayasan Panti Asuhan Marhamah Jakarta. Donasi Anda dapat disalurkan melalui akun rekenuing berikut:

BRI Cab. Otista Jakarta No. 0340.01.00025730.8
Bank Mandriri Cab. DI Panjaitan No. 006.0097045920
Bank BCA KCP Otista No. 5530289950

Rekening atas nama: Yayasan Marhamah Jakarta




















 
Didukung oleh : SMP Al Qalam Jaktim | Dermawan Muslim
Copyright © 2011. Yayasan Marhamah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Google Technology