Berita Terbaru

Menulis Mushaf Al-Qur’an Menjadi Bagian Budaya Nasional

Written By Admin on Rabu, 16 November 2016 | 11.23.00

yayasanmarhamah.com - Kementerian Agama (Kemenag) menghelat Pencanangan Budaya Nasional Menulis Mushaf Al-Qur’an di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kemenag, Jl MH Thamrin No 6, Jakarta. Pencanangan penulisan mushaf Al-Qur’an ini bertujuan untuk membudayakan masyarakat Indonesia untuk menulis, mempelajari, memahami, mengkaji, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Mengapresiasi hal itu, puluhan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta ikut andil dalam memeriahkan rangkaian kegiatan Kemenag dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober 2016.
Penulisan mushaf Al-Qur’an tersebut dilakukan serentak di seluruh Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi di Indonesia. Diawali dengan penulisan kalimat Basmalah oleh Menag, Lukman Hakim Saifuddin.
Selain santri Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta, ada pula santri pondok pesantren lain di seluruh Indonesia yang mengikuti penyelenggaraan kegiatan ini. Tercatat 40.128 santri dari 33 kanwil.


Mari Berqurban di Yayasan Marhamah Jakarta Timur!

Written By Admin on Selasa, 23 Agustus 2016 | 09.25.00



SUNGGUH selalu ada hikmah di setiap perintah yang Allah Subhanahu Wata’ala serukan kepada kita umatnya, meskipun jika dipandang berat menjalaninya. Begitulah perintah berqurban yang didasari kepada kisah sepasang ayah dan anak nan sholeh, nabiyullah Ibrahim dan putranya Ismail alaihi sallam.
Pada hakekatnya berqurban adalah wajib bagi yang mampu. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
أخبرنا الحسن بن يعقوب بن يوسف العدل ، ثنا يحيى بن أبي طالب ، ثنا زيد بن الحباب ، عن عبد الله بن عياش القتباني ، عن الأعرج ، عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح ، فلا يحضر مصلانا »
“Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir dilapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim]

1. Qurban Pintu Mendekatkan Diri Kepada Allah
Sungguh ibadah qurban adalah salah satu pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana halnya ibadah shalat. Ia juga menjadi media taqwa seorang hamba. Sebagaimana firman Allah surat Al-Maidah ayat 27, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa”.
Berqurban juga menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba.
Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS:Al Hajj:37)

2. Sebagai sikap Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [QS: Al Hajj : 34]

3.Sebagai Saksi Amal di Hadapan dari Allah
Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ ابْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنِي أَبُو الْمُثَنَّى عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” [HR. ibnumajah No.3117].

4. Membedakan dengan Orang Kafir
Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang Jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [QS: al-An’am : 162-163]

5. Ajaran Nabiullah Ibrahim AS
Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim – ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ حَدَّثَنَا عَائِذُ اللَّهِ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ
“Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” [HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127]

6. Berdimensi Sosial Ekonomi
Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun.
Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.
Hadits dari Ali bin Abu Thalib,
وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: { أَمَرَنِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ, وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلالَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ, وَلا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئاً } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ
”Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya.”Wallahu ‘alam bisshawab. */Sumber Hidayatullah.com

Alhamdulillah... Pembangunan Gedung Asrama Baru Telah Rampung!

Alhamdulillah...
Pembangunan Gedung Asrama Baru Telah Rampung!

Terima kasih kepada para donatur yang telah berpartisipasi untuk membangun.
Semoga selalu diberi kesehatan, dipermudah segala urusan, dilimpahkan rizki lagi berkah, dan disediakan singgasana terbaik di surga-Nya Allah kelak. Aamiin...

BAROKALLAH: Gedung asrama baru tampak dari kiri depan.

KHUSYUK: Para santri sedang melakukan doa yang
dipimpin oleh salah satu ustadz.

TEDUH: Gedung asrama baru pada saat malam hari.

ASYIK: Beberapa santri sedang asyik naik turun tangga.


Berbahagialah bagi Anda yang Rajin Shalat Dhuha

Written By Admin on Selasa, 16 Agustus 2016 | 10.27.00

Oleh: Ali Akbar bin Agil

SETAHUN belakangan ini sering saya mendapat kiriman pesan pendek (SMS) dari seseorang sahabat. Salah satu kebiasaannya mengirimkan SMS berisi ajakan shalat Dhuha. Macam-macam bunyi SMS-nya. Kadang diawali dengan nasihat yang membuat saya merenungi diri yang berkubang dalam lumpur dosa dan kesalahan. Kadang diselipi jok-jok segar yang membuat tersenyum.
Pada suatu hari ia ‘mewakafkan’ pulsanya untuk mengirim SMStepat pada momentum Tahun Baru Islam, “Hikmah hijrah, semakin baik, meninggalkan yang munkar. Tinggalkan kemalasan menuju istiqamah beribadah. Monggo shalatDhuha.”
Di kesempatan yang lain ia menulis, “Ya Allah, aku berlindung padaMu dari ilmu yang tidak manfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tak pernah puas dan dari doa yang tidak terkabul. Matahri sudah tinggi, siap-siap shalat Dhuha.”
Ada juga SMS yang sangat memukul telak ke hati yang paling dalam, “Kita pernah bertemu dengan orang baik. Atau, orang yang menganggap diri kita baik. Benarkah? Sesungguhnya bukan kebaikan yang disandang, tapi ada kekuasaan Tuhan yang menutupi aib, kesalahan dan dosa-dosa kita sehingga tidak tampak. Kita tidak bisa bayangkan seandainya Tuhan tidak menutupi borok kita itu. Seandainya dosa itu berbau, maka tidak ada orang yang mau dekat dengan kita karena tidak tahan dengan baunya. Masihkah kita merasa baik? Kita hanya bisa minta kepada Tuhan agar menutupi kesalahan-kesalahan kita seperti yang terucap dalam doa diantara dua sujud. Ada 7 permohonan kita, satu di antaranya adalah WAJBURNI (tutupilah kesalahanku) dan Allah mengabulkan permintaan itu. Allahumma aamiin.. Waktunya shalatDhuha.”
Shalat Dhuha mempunyai kedudukan mulia. Disunnahkan untuk kita kerjakan sejak terbitnya matahari sampai menjelang datangnya shalat dzuhur.
Seperti diungkap oleh Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam bukunya Khasais al-Ummah al-Muhamadiyah tentang keutamaannya, penulis membeberkan keutamaan-keutamaan yang disediakan oleh Allah bagi hamba yang menunaikannya lengkap dengan sumber haditsnya.
Pertama, orang yang shalat Dhuha akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah. “Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)
Kedua, barangsiapa yang menunaikan shalat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Alah. “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).
Ketiga, orang yang menunaikan shalat Dhuha akan dicatat sebagai ahli ibadah dan taat kepada Allah. “Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).
Keempat, orang yang istiqamah melaksanakan shalat Dhuha kelak ia akan masuk surga lewat pintu khusus, pintu Dhuha yang disediakan oleh Allah. “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. At-Thabrani).
Kelima, Allah menyukupkan rezekinya. “Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan menyukupimu di akhir harimu.” (HR. Abu Darda`).
Keenam, orang yang mengerjakan shalat Dhuha ia telah mengeluarkan sedekah. “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Muslim).
Selain keutamaan yang sudah disebutkan di atas, masih ada keutamaan lainnya yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yaitu dengan mengerjakan shalat Dhuha ada pahala besar berupa pahala seperti orang yang haji dan umrah yang diterima oleh Allah. Barangkali kemuliaan ini masih belum diketahui oleh banyak orang. 
Bunyi haditsnya, “Barangsiapa shalat subuh dengan berjamaah, kemudian duduk berdizkir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, dia mendapat pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Turmudzi).
Dalam buku yang berjudul Panduan Shalat Dhuha (Terbitan Darul Uswah, Yogyakarta, 2013) yang ditulis oleh Ibrahim an-Naji dan diterjemahkan oleh Ahmad Suryana ini, diketengahkan syarat-syarat untuk dapat meraih pahala umrah dan haji yang sempurna itu.
Pertama, diawali dengan shalat subuh berjamaah, meski tidak dilakukan di masjid seperti mushalla, ini sudah cukup. Batas minimalnya shalat berjmaah adalah antara imam dan makmun.
Kedua, duduk di tempat shalatnya sampai terbitnya matahari.
Ketiga, tidak mengerjakan perbuatan yang tidak bermanfaat. Syarat keempat menyibukkan diri dengan berzikir hingga waktu dibolehkannya shalat Dhuha.
Imam al-Ghazali menyebutkan amalan-amalan yang dilakukan di waktu antara subuh danshalat Dhuha: berdoa, berzikir dengan tasbih, membaca al-Qur`an dan bertafafkur.
Kelima, mengerjakan shalat Dhuha di tempat ia berzikir tersebut meski hanya dua rakaat.
Joging 20 menit menyehatkan tubuh, shalat Dhuha 2 rakaat tenangkan jiwa,” tulis sahabat saya suatu kali, maka bukan hanya jiwa yang tenang, dosa pun diampuni, dimudahkan dalam menjemput rezeki dan pahala umrah serta haji dapat diraih.
Berbahagilah orang yang shalat Dhuha. Mengawali pagi dengan ibadah. Santapan ruhani yang menggenapkan semangat menjalani kehidupan dengan penuh keyakinaan dan tawakal. Dari awal hingga akhir menautkan diri kepada Allah yang Maha Kaya.
Mudah-mudahan dengan mengetahui keutamaan shalat Dhuha kita lebih istiqamah melaksanakan shalat yang satu ini.

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Sumber: http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2013/12/05/7637/berbahagilah-bagi-anda-yang-rajin-shalat-dhuha.html

Cerdas Berinternet - Tips Internetan Sehat dan Aman

Written By Admin on Jumat, 12 Agustus 2016 | 09.38.00


WACANA dan konsep Cerdas Berinternet muncul akibat banyaknya dampak negatif media internet. Rupanya banyak user (pengguna internet) yang "tidak cerdas" sehingga menjadi korban dan terkena dampak buruk aktivitas "internetan".

Tidak sedikit user internet yang menjadi korban karena "ketidakcerdasannya" berinternet, seperti menjadi korban penipuan dan menjadi "pesakitan" akibat melanggar etika internet (netiket) ataupun melanggar UU ITE.

Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang pada triwulan ketiga tahun 2014, meningkat sebanyak + 11 juta orang dibandingkan pada tahun 2013 yang mencapai 71.19 juta orang. Dengan capaian tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-8 di dunia. Untuk pengguna Facebook, Indonesia di peringkat ke-4 besar dunia. (Kominfo).

Pengertian Cerdas Berinternet

Bagi saya, pengertian Cerdas Berinternet bukan saja bermakna piawai (mahir) dalam mengoperasikan dan memanfaatkan media internet, tapi juga cerdas (smart) dalam memilih dan memilah infomasi yang dibaca dan dipublikasikan.

Dalam hal mahir internetan, cerdas berinternet artinya pengguna memahami dan pandai dalam memilih:
  1. Komputer atau Gadget yang cocok dan bagus.
  2. Koneksi internet yang baik dan "kenceng".
  3. Intenet/Web Browser yang aman --Google Chrome, Mozilla Fiefox, Internet Explorer-- plus Extension dan Addon.
  4. Web Search Engine --Google, Yahoo, Bing.
  5. Browsing, Surfing, atau Searching --penggunaan kata kunci yang tepat untuk mendapatkan informasi yang dicari.
Dalam hal mahir memilih informasi, cerdas berinternet artinya pengguna mampu:
  1. Memilih situs, portal berita, blog, atau halaman dan link (tautan) yang terpercaya, positif, tidak menyesatkan.
  2. Mampu berpikir seperti wartawan (Think Like a Journalist), seperti skeptis, tidak mudah percaya, kritis, dan "tidak sembarang share/like".
  3. Berhati-hati dalam komentar, update status, dan posting (upload) sehingga tidak melanggar etika internet serta norma dan hukum yang berlaku (UU ITE).
Berbeda dengan media "konvensional", di media internet, user atau pembaca bisa sekaligus menjadi publisher dan editor, bahkan menjadi owner blogger).

Program INSAN: Tips Cerdas Berinternet

Guna meminimalkan dampak negatif internet, pemerintah mencanangkan program Internet Sehat Aman (INSAN) agar masyarakat mengetahui cara menggunakan internet, pemanfaatannya, dan dampak yang ditimbulkan.

Di situs resmi INSAN disebutkan, dampak negatif internet antara lain pornografi, perjudian, penipuan, mangabaikan kehidupan sosial didunia nyata, kecanduan internet, cybersexual addictioncomputer addiction, cyber-relational addiction.

Disebutkan, INSAN adalah program nasional yang dimotori oleh Tim Sosialisasi INSAN yang ditujukan untuk mensosialisasikan penggunaan internet secara sehat & aman ke berbagai kalangan sehingga internet dapat memberi manfaat dan nilai tambah.

Berikut ini sebagian panduan Cerdas Berinternet versi INSAN:

Manfaat Internet

  1. Korespondensi dan pertukaran data digital dengan pihak lain dapat dilakukan dengan mudah, murah, dan cepat menggunakan layanan e-mail atau file sharing.
  2. Komunikasi langsung (via text, audio, atau video) secara real time dapat dilakukan dengan biaya yang sangat murah bahkan gratis menggunakan layanan instant messenger dan telepon VoIP.
  3. Data dan informasi terkini dapat diperoleh dengan sangat cepat dari berbagai sumber informasi, di dalam dan luar negeri, dengan mengakses berbagai situs berita dan informasi.
  4. Mudah dalam mencari dan memperoleh sumber referensi untuk keperluan pendidikan secara lengkap dengan menggunakan mesin pencari.
  5. Lebih cepat dan mudah dalam memperluas jaringan pertemanan secara nasional dan global dengan menggunakan berbagai situs pertemanan.
  6. Dapat memperoleh beragam hiburan dengan variasi yang sangat banyak dari seluruh dunia dengan mengakses situs video sharing, online radio, dll.
  7. Transaksi bisnis dapat dilakukan lebih cepat dengan menggunakan layanan e-commerce, online banking, dll.

Bahaya Internet

  1. Spam, yaitu email sampah yang berisi penawarkan produk/jasa, penipuan berkedok kerja sama bisnis, penyebaran virus, dll.
  2. Hoax. Informasi palsu yang menyesatkan (Hoax).
  3. Phising. Pencurian identitas untuk melakukan pencurian, penipuan, dll.
  4. Cyberbullying. Kekerasan menggunakan media internet, seperti pelecehan, ancaman, dan tuduhan.
  5. Illegal Content. Konten ilegal, seperti perjudian dan pornografi. 
  6. Copyright infringement, Plagiarism. Pelanggaran hak cipta.

Tips Internet Sehat dan Aman

  1. Waspadai Virus: Malware, AdWare, Spyware. Jangan sembarang unduh file dan baca petunjuk instalasi aplikasi/sofware. (Pasang Antivirus dan AntiMalware di Komputer).
  2. Batasi informasi yang bersifat pribadi (data keluarga, alamat, dll).
  3. Pastikan foto/video yang diposting tidak akan merugikan diri sendiri atau orang lain.
  4. Jangan merespon e-mail dari pengirim yang tidak dikenal (spam) dan jangan membuka link yang diberikannya.
  5. Segala sesuatu yang bersifat pribadi lebih baik tidak dipublikasikan di halaman yang bisa diakses umum. 
  6. Jangan tergoda tawaran penambahan teman, like, dan follower secara instan dan cepat! 
Khusus di media sosial seperti Facebook dan Twitter, buatlah status update, link share, atau posting yang informatif dan inspiratif, bukan "keluh-kesah dan sumpah-serapah".

Mari bersikap cerdas dalam berinternet...


Sumber : http://www.romelteamedia.com/2014/09/cerdas-berinternet-tips-sehat-aman-internet.html

Pembangunan Gedung Asrama Baru sedang Berlangsung

Written By Admin on Jumat, 08 April 2016 | 13.00.00







Program Pembangunan Gedung Asrama Baru

Written By Admin on Jumat, 19 Februari 2016 | 12.49.00


Ingin Siswa-siswa Lebih Mengenal Dunia Teknologi, Ibu Shabana Mengirim 10 Unit PC Dekstop untuk SMP Al-Qalam


Siang menjelang sore, tepatnya pukul 14.30 WIB, sebuah taksi berhenti di depan gedung SMP Al-Qalam. Sesaat kemudian, seorang berkacamata membuka pintu taksi dengan penuh percaya diri. Adalah Pak Imam, sosok pengasuh sekaligus guru di sekolah islamic boarding school tersebut yang muncul dari taksi. Ia diberi amanah oleh salah seorang donatur untuk membeli 10 unit PC Dekstop di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Dengan penuh syukur, akhirnya ia berhasil menjalankan amanahnya, membelikan alat-alat Laboratorium Komputer yakni 10 unit PC Dekstop hingga sampai di SMP Al-Qalam.

Memang, Laboratorium Komputer di SMP Al-Qalam sempat ‘mati suri’. Namun dengan adanya bantuan dari Ibu Shabana telah memberikan angin segar tersendiri bagi siswa-siswa SMP Al-Qalam untuk lebih mengenal teknologi masa kini.


Selain PC Dekstop, Ibu Shabana juga memberikan seperangkat alat olahraga dan buku LKS (Lembar Kerja Siswa)

Alhamdulillah, Ibu Shabana juga memberikan seperangkat alat olahraga dan buku LKS. Semua bantuan tersebut sangat menunjang berlangsungnya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah kami. Untuk itu, kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Shabana, juga para donatur lain yang dengan segenap hati telah mengulurkan tangan untuk kami. Semoga segala kebaikan Anda diberikan keberkahan terhadap yang tersisa, dan dijadikan suci terhadap jiwa dan raga. Aamiin. [gfr]

MUKENA UNTUK IBU - Buku Karya Santri-Santri Yayasan Marhamah

Written By Admin on Jumat, 12 Februari 2016 | 11.06.00


Kata Mereka...

Subhanallah, cerita ini memberikan pelajaran yang sangat bagus. Dimana seorang anak yang belum bekerja bisa mewujudkan impian mulianya untuk ibunya tercinta. Dengan usaha yang sungguh-sungguh semua bisa diraih. Man jadda wajada.”
SR. Fidiyati, S.Kom. - Salah satu rekan donatur dari PT. Cipta Bayu Utama


“Cerita tentang anak soleh yang sangat menyayangi orangtuanya. Memberikan contoh bagi 
pembaca, khususnya anak-anak dan remaja tentang bagaimana kewajiban seorang anak 
terhadap dirinya dan kedua orangtua.”
Drs. Didin Supriatna, MM - Pengawas SMP Wilayah I Jakarta Timur 


“Membaca karya anak-anak ini menggambarkan potensinya dalam dunia tulis menulis. Bakat mereka di dunia kepenulisan memang ada, ditambah spirit untuk berbagi dengan memublikasikannya kepada khalayak. Terbukti mereka pandai merangkai kata dan dibumbui dengan kisah-kisah nyata, semakin membuat buku ini terasa berbeda. Semoga para pembaca terinspirasi!”
Imam Ma’arif, S.Pd.I. - Guru sekaligus Pengasuh di Yayasan Marhamah

“Apa boleh buat, lagi-lagi saya harus angkat topi. Setelah buku tentang ujian nasional dan dunia kepesantrenan. Kini, santri-santri ini kembali berkarya dengan tema keluarga. Ini buku ketiga karya mereka yang mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus geleng-geleng kepala. Cukup satu kata untuk mereka, salut!”
Ghofar El Ghifary - Penulis dan Owner di gachor.com

“Mukena Untuk Ibu. Pesan cerita yang disampaikan bagus sekali. Seorang anak soleh yang begitu sayang dengan orangtuanya, khususnya ibunya. Sehingga ia sangat berusaha untuk bisa membelikan mukena untuk ibunya. Memang benar, niat dan usaha yang mulia pasti Allah memberikan kemudahan untuk dapat mewujudkannya.”
Emiria Bakti - Salah satu donatur di Yayasan Marhamah





Mengenang Jasa Ibu Rawi

Written By Admin on Kamis, 11 Februari 2016 | 09.15.00

(Juru Masak di Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta)


Pernah suatu ketika, Bu Rawi marah-marah lantaran salah seorang santri telat makan siang. Aku yang ada di dapur pondok hanya menunduk terdiam, bukan terdiam karena tak perduli, namun karena aku sudah tahu tabiat ibu yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengabdi untuk pondok kami itu. Biasanya, bila ia sudah marah-marah, nanti ujung-ujungnya akan ada nasihat yang bisa kita petik dari akhir ucapannya.

Seperti kasus di atas, risiko bila telat makan siang, tidak akan kebagian jatah makan. Namun, setahuku Bu Rawi berjiwa besar, beliau tak akan sampai hati membiarkan santri yang tidak kebagian makan itu sampai kelaparan. Walau sambil marah-marah, beliau akan tetap saja memberi makan. Beliau sudah menganggap seluruh santri Pondok Pesantren Hidayatullah, Marhamah Jakarta dari berbagai angkatan sebagai anaknya. Dari angkatan Mahidin Syahidu yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Al-Qalam. Angkatan Wahyudi yang saat ini sedang mengabdi di asrama yang pernah disinggahinya untuk menuntut ilmu itu. Lalu angkatan Dika Firmansyah, yang kini sedang tugas di Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu. Dan masih banyak angkatan-angkatan lainnya.

Pernah suatu ketika aku bersilaturrahim di kediamannya yang ada di lokasi rawan banjir, di Tanjung Lengkong, Bidaracina, Jakarta Timur. Beliau bercerita kepadaku bahwa beliau sering sedih dan gusar bila jatuh sakit. Sedih bukan karena sakitnya. Namun, beliau sedih karena memikirkan siapa yang akan memasakkan makanan untuk para santri. Aku yang mendengar keluhannya itu hanya bisa menyemangati dengan tetap menghiburnya agar beliau kembali sehat seperti sediakala. Dan kukatakan kepada beliau bahwa untuk sementara waktu, makan para santri dimasakkan oleh istri-istri para ustadz yang ada di pondok. Sejurus dengan itu, beliau pun terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

Awal penyakit kronis yang dialami Bu Rawi
Akhir-akhir ini Bu Rawi sering jatuh sakit. Beberapa ustadz pondok pun sering menyarankannya untuk istirahat di rumah saja. Akan tetapi, beliau seringkali mengelak dari rasa sakit yang dideritanya. “Saya masih kuat masak. Saya tidak mau berhenti masak untuk anak-anak. Diam di rumah malah membuat badan saya lemas,” ujar wanita yang menginjak usia 59 tahun itu.

Dan ternyata, sakit yang dialami Bu Rawi semakin parah. Ada penyakit kronis, yakni penyakit tumor yang bersemayam di tenggorokan kirinya. Beliau pun semakin sulit untuk berbicara. Dan akhirnya pihak pondok memutuskan untuk membawa beliau ke RS Persahabatan. Sesampai di rumah sakit, beliau dioperasi bagian perutnya untuk menyambungkan selang ke lambung karena tidak bisa makan dan minum melalui tenggorokan. Sebelumnya beliau pernah mempunyai penyakit tumor di perut, namun penyakit itu sudah dioperasi dan diangkat ketika dirawat di RS Budhi Asih. Dan saat itu dokter di sana menganjurkan beliau untuk cemotherapy, namun ia juga tak kunjung cemotherapy. Sehingga sisa-sisa tumor di perut yang sempat diangkat tadi menjalar ke tenggorokan.

Selama tiga minggu Bu Rawi dirawat di RS Persahabatan. Kata dokter, penyakit yang diderita Bu Rawi sangat parah dan sudah tidak ada harapan lagi. Kemudian Bu Rawi pun dianjurkan untuk dibawa pulang. Mengingat status Bu Rawi hanyalah seorang janda dan hidup sebatangkara walaupun sebenarnya mempunyai anak laki-laki yang sudah tak perduli lagi dengannya, salah seorang ustadz pondok menyarankan beliau untuk diinapkan di pondok saja. Tujuannya agar ada yang merawat dan memperhatikan beliau.

Sosok wanita yang sangat berjasa itu telah tiada
Bu Rawi pulang dari rumah sakit dan dirawat di pondok. Dua pekan lamanya beliau dirawat di pondok. Semakin lama kondisi Bu Rawi semakin memburuk. Tubuhnya nampak kurus lantaran tak ada asupan makanan bergizi yang cukup mengisi lambungnya. Hanya air susu dan obat-obatan cair. Beliau pun sering mengeluh sakit kepala dan susah bernapas. Bila berbicara, suaranya serak parau dan susah dimengerti. Pagi itu beberapa santri segera melaporkan kondisi Bu Rawi kepada ustadz-ustadz di pondok. Kemudian beberapa pengasuh pun kembali membawa beliau ke RS Persahabatan atas perintah beberapa ustadz tadi.

Sesampai di rumah sakit, beberapa pengasuh pondok menunggu kepastian dari dokter. Cukup lama Bu Rawi menunggu penanganan dari dokter. Hingga waktu sore menjelang salat ashar, dokter dan beberapa suster membawa Bu Rawi ke ruang UGD. Kata dokter, tumor yang tumbuh di tenggorokan merambat ke saluran pernapasan, sehingga diharuskan untuk operasi. Operasinya pun akan dilakukan tanpa adanya tahap pembiusan terlebih dahulu. Sesuai diagnosa dokter, bila dilakukan pembiusan, dikhawatirkan berhasil tidaknya proses operasi tidak bisa diketahui karena kondisi pasien yang sangat lemah. Akhirnya beberapa pengasuh pondok pun setuju dilakukannya operasi. Kemudian saat operasi akan dilakukan, Bu Rawi menghembuskan napas terakhir. Beliau sudah dipanggil lebih dulu oleh Allah Swt. Innalillahi wa’inna ‘ilaihi rooji’uun.

Menuju peristirahatan terakhir
Sesampai di rumah, lebih tepatnya pukul empat sore, beberapa tetangga Bu Rawi, para ustadz dan pengasuh pondok terlibat adu argumen tentang waktu pemakaman beliau. Ada yang mengusulkan untuk langsung dimakamkan sore itu juga. Namun ada juga yang mengusulkan untuk dimakamkan besok pagi saja dengan alasan menunggu kedatangan anak laki-laki satu-satunya. Beberapa orang yang mengusulkan untuk dimakamkan sore itu jelas marah dan kecewa lantaran tingkah anak Bu Rawi yang hanya dua kali menjenguk beliau selama sakit. Itu pun anaknya langsung pergi entah kemana tanpa ada pamit terlebih dahulu hingga beliau wafat.

Dalam perang argumen itu, akhirnya ada ketua RT setempat yang menjadi penengah. Dan menganjurkan kepada salah seorang warga untuk menelpon anak Bu Rawi.  Setelah anak Bu Rawi ditelpon, ia berkata bahwa akan datang pukul tujuh malam. Akhirnya, pemakaman pun diputuskan malam ini juga, usai shalat isya’, sambil menunggu kedatangan anak Bu Rawi, dan tak sampai menunggu hingga besok pagi.

Jenazah Bu Rawi sudah siap untuk dimakamkan. Aku merasa sangat kehilangan dan berhutang budi kepada beliau. Apalagi niatku untuk memberinya uang tunai belum juga tertunaikan. Tanpa pikir panjang aku megambil alih untuk mengangkat keranda bersama-sama dengan para pengasuh dan warga. Hingga sampai proses pemakaman Bu Rawi selesai. Dan doa usai pemakaman pun dipimpin oleh salah seorang ustadz pondok.

Sungguh! Aku, para santri, pengasuh dan ustadz pondok merasa kehilangan atas wafatnya Bu Rawi yang sangat berjasa bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta tempat kami bernaung. Dan kami sangat menyadari, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah atas dasar kehendak Allah. Suatu saat, entah kapan, kita semua pasti akan menyusul beliau. Selamat jalan ibu kami tercinta! [gfr]

       Ditulis pada 5 Januari 2011 di www.elnisa.com
 
Didukung oleh : SMP Al Qalam Jaktim | Dermawan Muslim
Copyright © 2011. Yayasan Marhamah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Google Technology